Indonesia Ajak Kolombia Lawan Pelemahan Harga Minyak Sawit

Jakarta, - Indonesia mengajak Kolombia untuk bersama-sama melawan kampanye hitam dari pihak luar atau negara-negara konsumen yang terus menekan agar harga minyak sawit dunia turun. Ajakan tersebut disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia Priyo Iswanto dalam pembukaan Kongres Nasional ke-45 Penanam Sawit Kolombia, Minggu (11/6).

Ia mengatakan, untuk melawan kampanye tersebut tidak ada jalan lain kecuali negara produsen bergabung sembari memperkuat kelembagaan dewan negara yang menghimpun dana untuk menjaga stabilitas harga sawit dunia. Toh, negara produsen sawit sudah menerapkan program sustainability atau berkelanjutan industri kelapa sawit.

"Resolusi Parlemen Uni Eropa terkait Kelapa Sawit dan Deforestasi merupakan kebijakan yang bertujuan untuk melindungi kepentingan industri minyak nabati mereka sendiri. Karena itu, saya mengajak negara-negara penghasil sawit, termasuk Kolombia, untuk bersama-sama memerangi kebijakan tersebut," kata Priyo Iswanto, mengutip ANTARA, Minggu (11/6).

Indonesia diundang dalam kongres tersebut karena pamornya sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. "Kolombia ingin belajar banyak dari Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, karenanya berkepentingan juga melibatkan Indonesia sebagai negara produsen," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Priyo juga mengundang Kolombia untuk bergabung dalam dewan negara, yakni negara-negara produsen sawit menghimpun dananya guna menjaga kestabilan harga minyak sawit dunia. "Jika kita cukup dana, dapat dijadikan semacam buffer stocks, yakni dana cadangan, guna mengampu harga sawit saat turun," imbuhnya.

Priyo mengklaim, Kolombia merespon positif dan bahkan akan banyak belajar dengan Indonesia, khususnya soal penanaman sawit yang menjadi basis bagian dari pertumbuhan ekonomi nasional.


Presiden Eksekutif Asosiasi Penanam Sawit Kolombia Jens Mesa Dishington menyatakan, Kolombia juga tertarik menjadi anggota dewan negara-negara penghasil minyak sawit dunia.

Apresiasi positif terhadap kebijakan Indonesia di bidang kelapa sawit bukan hanya dari pihak Kolombia, tetapi juga datang dari tamu undangan lain, salah satunya James Fry (Oxford University) CEO LMC International yang bermarkas di Inggris.

Ia menuturkan, pembentukan dana sawit merupakan suatu terobosan baru di industri kelapa sawit dunia yang patut diapresiasi oleh seluruh pelaku industri kelapa sawit dunia. "Pemberlakuan pajak ekspor kelapa sawit Indonesia oleh pemerintah Indonesia membentuk dana sawit merupakan satu kebijakan pintar dan saya memuji kebijakan itu," ucap Fry.

Pada Kongres Nasional ke-45 itu, Menteri Pertanian dan Pembangunan Rural Kolombia Aurelio Iragorri Valencia mengungkapkan bahwa Indonesia dapat dijadikan model. Jumlah pekerja yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung menjadi bukti perkebunan sawit dapat menjadi penyumbang lapangan pekerjaan, serta ekonomi negara.

"Kolombia ingin belajar banyak dari Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia," papar dia.

Sekadar informasi, Kolombia merupakan penghasil kelapa sawit ke-4 terbesar di dunia dengan produksi 1,28 juta ton per tahun dengan jumlah area perkebunan sawit sebesar 500 ribu hektare.

Sementara, Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit terbesar dengan volume di atas 33 juta ton per tahun. Jumlah area perkebunan sawit di atas 11 juta hektare.

Kesuksesan komoditas kelapa sawit di pasar internasional merupakan prospek perkebunan minyak nabati yang menjanjikan, khususnya menyediakan lapangan pekerjaan dalam rangka implementasi perjanjian perdamaian yang disepakati pemerintah Kolombia dengan pemberontak kelompok kiri Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia pada November 2016. (bir)

Sumber : CNN Indonesia

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »