Sawit RI Perlu Mekanisasi dan Diversifikasi Produk

JAKARTA – Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) menyatakan bahwa industri sawit nasional perlu menerapkan mekanisasi dan melakukan diversifikasi produk, di samping menjalankan program utama berupa peremajaan tanaman (replanting) untuk meningkatkan produktivitas. Langkah tersebut perlu dilakukan guna mengatasi terus menurunnya laju pertumbuhan industri sawit nasional sebagai akibat dari pembatasan maupun keterbatasann lahan yang tengah terjadi di subsektor sawit di Tanah Air.

Ketua Umum DMSI Derom Bangun mengungkapkan, industri perkebunan kelapa Sawit nasional saat ini mengalarni pembatasan (moratoriurn) ekspansi lahan. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab menurunnya laju pertumbuhan industri sawit (rate of growth). Misalnya pada 1990-an pertumbuhan itu berkisar 13% bahkan kadang-kadang 15% setahun baik dari sisi produksi maupun luas areal, saat ini jauh lebih rendah hanya 5-8%. "Itu karena pembatasan dan keterbatasan, pembatasan datang dari peraturan, keterbatasan karena ketersediaan (availability). Untuk mengatasinya perlu peningkatan produktivitas tanaman, juga mekanisasi dan diversifikasi produk," kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Derom menuturkan, saat ini banyak sekali pekerjaan-pekerjaan di industri sawit terutama di lapangan yang memerlukan tenaga kerja secara intensif atau perlu banyak tenaga. Misalnya, proses panen atau menurunkan buah (tandan buah sawit/TBS) dari pohon sawit yang tinggi, di Indonesia proses tersebut sebagian besar masih dilakukan manual menggunakan tenaga manusia. Padahal, di negara produsen sawit lainnya seperti Malaysia, penggunaan tenaga manusia sudah dikurangi dengan mekanisasi. "Misalnya, untuk mengambil buah dari pohon sawit yang ketinggiannya hanya 6 meter bisa digunakan alat khusus, sedangkan untuk di atas 10 meter memang masih dibutuhkan tenaga pemanen," ungkap Derom.

Menurut Derorn, penerapan mekanisasi di industri sawit nasional tampaknya memang masih dibutuhkan penelitian dari sisi mekanika. Namun dengan perkembangan informasi dan teknologi (IT) maka proses mekanisasi diyakini menjadi lebih mudah, misalnya dengan menggunakan robot. Apabila itu berhasil, dampaknya besar sekali terutama dari sisi efisiensi atau penghematan tenaga kerja. Tenaga kerja manusia bisa dialihkan untuk pekerjaan lain yang lebih produktif dan penghasilan pekerja pun bisa lebih tinggi. "Dari sisi mekanisasi, Indonesia belum semaju Malaysia, di Indonesia peran pisau egrek misalnya masih besar. Padahal dengan mekanisasi, setiap pemanen yang tadinya hanya bisa menjangkau 15-20 hektar (ha), mungkin bisa mejadi 30 ha atau bahkan lebih besar dari itu," jelas dia.

Pun dengan diversifikasi produk, kata Derom, jenis turunan sawit yang dihasilkan Indonesia hendaknya tidak hanya minyak goreng, sabun, atau biodiesel, namun bisa dihasilkan produk yang nilainya jauh lebih tinggi, seperti cokelat batangan, lipstik, lilin, atau bahkan pelumas. Produk-produk tersebut tidak hanya memberikan nilai tambah, tapi juga memberikan dampak ekonomi lebih besar bagi negara dan bangsa. "Diversifikasi yang mengarah ke produk-produk tersebut memang masih perlu penelitian, baik di lapangan untuk pertanaman maupun di hilirnya. Contoh produk pelumas biologis (biolubrikan) dari sawit, ini tidak bersifat racun, beda dengan pelumas dari minyak bumi yang sampai dibatasi penggunannya," jelas Derom.

Guna menghasilkan produk hilir baru dengan nilai tambah tinggi, kata Derom. diperlukan keahlian tinggi untuk merancang dan menghasilkan jenis produk yang disukai konsumen dan ini perlu sejumlah proses, mulai dari mendesain produk, test product, market research, hingga mengukur penerimaan pasar. "Ini seperti proses yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar dalam menjual barang-barangnya. Untuk dapat menghasilkan lipstik dengan baik perlu dulu ahli untuk merancang, membuat ramuan, menenfukan warna, belum lagi sifat-sifat lain agar mudah dihapus atau tidak, lengket atau tidak," jelas dia.

Sumber : Investor Daily | Selasa, 16 Mei 2017

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »