Energi Terbarukan, Menanti Listrik Hijau dari Riau

Meskipun kaya akan sumber daya alam migas, sawit serta hutan tanaman industri, Riau masih saja mengalami pemadaman bergilir. Masalah interkoneksi listrik di Sumatra ditambah faktor musiman, kemarau, selalu menyebabkan defisit listrik hingga 80 MW setiap harinya.

PT PLN (persero) tidak tinggal diam. Badan usaha milik negara di sektor energi listrik ini tengah membangun sejumlah pembangkit baru di Riau. Di antaranya PLTU Tenayan Raya, berkapasitas 220 MW yang akan dioperasikan tahun depan.

Di luar itu, partisipasi perusahaan swasta di Riau juga patut diacungi jempol. Apalagi, Riau yang kaya akan sawit punya peluang memaksimalkan energi baru dan terbarukan atau energi hijau. Salah satu upaya swasta adalah langkah yang diambil PT Inti lndosawit Subur dari kelompok usaha Asian Agri. Tak tanggung-tanggung, perusahaan ini sudah membangun lima pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) di Riau, Jambi dan Sumatra Utara.

Setiap PLTBg menghasilkan listrik 2 megawatt dengan biaya investasi sekitar Rp 60 miliar. "Pembangunan pembangkit biogas merupakan solusi dalam pengelolaan limbah pabrik sawit. Limbah diproses menjadi alternatif energil hijau yang juga mendukung kebutuhan listrik masyarakat," kata Direktur Asian Agri Freddy Widjaya kepada Bisnis, belum lama ini.

Freddy mengatakan perusahaan bahkan akan menambah pembangkit biogas lagi hingga 20 unit di Riau, Jambi dan Sumatra Utara. Selain memanfaatkan limbah sawit, pembangunan PLTBg ini juga untuk mendukung Pemerintah dalam penyediaan listrik energi hijau. PLTBg biogas, diklaim Asian Agri merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap kelestarian lingkungan.

"Kami tidak sekadar menjalankan bisnis perusahaan. Kami berusaha agar limbah dari pengolahan sawit dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat, tambah Freddy.

Freddy mengatakan listrik yang dihasilkan dari PLTBg sebesar 2 MW itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik sekitar 700 kW. Sisa daya listrik sebesar 1,3 MW akan disalurkan untuk kebutuhan listrik warga di sekitar lingkungan pabrik. "Seandainya satu rumah sederhana membutuhkan 900 watt, kelebihan listrik kami dapat dimanfaatkan lebih dari 7.000 rumah. Berarti, ada banyak rumah targga yang kebutuhan listriknya didukung pabrik biogas Asian Agri," jelasnya.

Dia mengemukakan perusahaan berani mengeluarkan dana di sektor ini untuk kepentingan jangka panjang, mengatasi krisis listrik yang bersumber dari fosil. Produksi minyak sawit mentah Riau sendiri setiap tahun mencapai 9 juta ton. Freddy berpendapat, jika seluruh pelaku industri kelapa sawit mengambil peran dengan inisiatif serupa masalah kelangkaan listrik nasional akan teratasi.

EFESIENSI
Penggunaan pembangkit alternatif ini diharapkan juga dapat meningkatkan efisiensi produksi pabrik kelapa sawit yang selama ini banyak menggunakan solar. Perusahaan sawit lain yang sudah mengambil langkah serupa adalah PT Musim Mas.

Berdasarkan catatan Bisnis, Musim Mas Group sudah menyiapkan modal hingga US$24 juta untuk membangun empat PLTBg di daerah konsesi perusahaan sepanjang 2016. "Lokasinya yaitu di Rokan Hulu, Rokan Hilir, Pelalawan, dan Guntung Indragiri Hilir,” kata Corporate Affairs Musim Mas Group Togar Sitanggang.

Musim Mas Group memiliki lahan perkebunan sekaligus pabrik kelapa sawit di wilayah Sorek Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau, dengan luas lahan hak guna usaha 28.000 hektar.

PENJUALAN LISTRIK
Pemerintah sendiri saat ini tengah menggodok beleid mengenai penjualan listrik swasta yang menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT) oleh PLN untuk merangsang investor swasta membangun pembangkit energi hijau ini. Sebab, pemerintah sendiri menargetkan bauran energi terbarukan hingga 23% pada 2025.

Manajer SDM dan Umum PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, Dwi Suryo Abdullah mengatakan untuk pembangkit biogas dengan daya kecil sebenamya bisa disalurkan dan dijual langsung ke masyarakat sekitar pabrik dengan kerja sama melalui pemda dan badan usaha milik daerah. Sebab, jika penjualan listrik hijau menunggu oleh PLN membutuhkan waktu lama terkait pembangunan transmisi dan penetapan tarif oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Menurut Dwi, sudah ada percontohan di Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Limbah sawit di sana diolah menjadi pembangkit berkapasitas 1 MW dan disalurkan kepada masyarakat melalui kebijakan pemda setempat.

Syahrial Abdi, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Ruau, mengatakan permintaan listrik Riau sangat tinggi karena daerah ini juga tengah membangun pusat industri. Jika kontribusi swasta dalam membangun energi hijau di Riau sudah bisa digunakan warga, maka daerah ini bisa menjadi percontohan dalam pemanfaatan energi yang bersumber dari non fosil alias energi hijau itu.

Sumber : Bisnis Indonesia

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »