Bibit Sawit Palsu Rugikan Petani

PENAJAM – Penggunaan bibit palsu kelapa sawit dapat mendatangkan kerugian bagi petani di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), karena hasil produksinya sangat rendah dibandingkan menggunakan bibit unggul yang telah bersertifikasi dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) maupun perusahaan sumber benih yang telah ditunjuk Kementan. Demikian diungkapkan Kabid Perkebunan Dinas Kehutanan Dan Perkebunan (Dishutbun) PPU, Kuncoro, kepada Koran Kaltim, siang kemarin.

Dibeberkannya, perbedaan antara benih bibit sawit unggul dengan bibit sawit palsu, yakni dalam satu hektare yang biasanya berisi sekitar 140 pohon untuk bibit sawit unggul dapat menghasilkan 24 ton per tahun, sedangkan untuk bibit sawit palsu hanya menghasilkan sekitar 12 ton per tahun.

“Karena ada perbedaan hasil produksi, maka dalam satu tahun petani kelapa sawit dirugikan sekitar 50 persen apabila menggunakan bibit palsu tersebut. Kabupaten PPU memiliki luas lahan kebun sawit total sekitar 16 ribu hektare, sekitar 8 ribu hektare telah menerima penyaluran bantuan benih sawit unggul dari Pemerintah secara gratis pada tahun 2004 – 2011. Dan, kemungkinan pembelian bibit palsu dilakukan oleh petani yang baru saja melakukan penanaman kelapa sawit dan membeli bukan di tempat yang dianjurkan,” ucapnya.

Menurutnya, di PPU memang ada beberapa petani hingga kini masih menggunakan bibit palsu karena ketidaktahuan mereka, apalagi bagi mereka yang tidak paham dan mengerti bagaimana mendapatkan bibit unggul bersertifikasi tersebut.

Dari hasil pantauan mereka di lapangan, di PPU terdapat sekitar enam pembibitan bibit kelapa sawit dan diduga palsu. Bahkan ada pemilik pembibitan telah diproses oleh Polda Kaltim.

Hingga kini hanya satu tempat pembibitan/penangkaran yang memiliki izin resmi yakni CV Tenera milik H. Adi Paimanais di Kecamatan Babulu PPU, benih yang ada memiliki sertifikasi dari PPKS Medan, sementara diluar itu diduga ilegal.

Ditegaskannya, kegiatan jual beli bibit palsu tersebut jika terbukti maka dapat dinyatakan melanggar UU RI nomor 12 tahun 1992 tentang budidaya tanaman, dimana dalam pasal 13 ayat (2) yakni benih bina yang akan diedarkan harus melalui sertifikasi dan memenuhi standar mutu yang dietapkan oleh Pemerintah. Dan pasal 60 ayat 1 huruf (c), bahwa barang siapa dengan sengaja mengedarkan benih bina yang tidak sesuai dengan label sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (2), maka akan diberikan sanksi berupa pidana penjara paling lama lima tahun denda paling banyak Rp.250 juta.

Diterangkannya, benih sawit unggul yang bersertifikat dijual dengan harga Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per pohon dengan usia sekitar setahun, sedangkan untuk benih sawit umur enam bulan dijual seharga Rp17 ribu per pohon sementara untuk harga benih sawit masih berupa camba dijual Rp8 ribu per biji.

“Sedangkan untuk bibit palsu harganya tentu lebih murah yakni benih umur sekitar satu tahun harga sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per pohon, benih camba sekitar Rp2.500 perbiji dan satu kantong berisi 200-300 biji benih sawit palsu dijual dengan harga sekitar Rp500 ribu-700 ribu,”katanya.

Ditegaskannya, pihaknya pada 5 September 2016 lalu, telah memberikan surat teguran kepada beberapa pembibitan atau penangkaran yang tidak memiliki izin resmi yang diduga memperjualbelikan bibit sawit palsu tersebut. (nav)

Sumber : korankaltim

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »