Minyak Sawit Terbukti Paling Sehat

Oleg : Sejumlah Profesor Sengaja Dibayar untuk Sudutkan Sawit

DENPASAR – Selama ini yang kerap didengar adalah mengenai dampak negatif produk olahan minyak sawit terhadap kesehatan. Stigma yang melekat, minyak sawit sebagai pemicu munculnya berbagai penyakit degeneratif atau penyakit yang menyebabkan terjadinya kerusakan atau penghacuran jaringan atau organ tubuh. Seperti diabetes melitus, osteoporosis, hingga serangan jantung. Namun ternyata selama ini hanyalah bualan pihak luar. Terutama negara-negara penghasil minyak nabati dari bunga matahari (sun flower oil), kedelai (soybean) dan rapessed oil .

“Saya tegaskan, minyak nabati dari sawit sehat. Bahkan sangat sehat,” tegas Dr Puspo Edi Giriwono, dosen Universitas Pertanian Bogor (IPB).
Puspo yang juga Seketaris Eksekutif Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center ini mengaku, dia tidak asal memberikan pernyataan.

Namun dia punya bukti ilmiah berupa hasil penelitian khusus mengenai hubungan minyak sawit dengan kesehatan kardiovaskuler. Bahkan, menunjukkan kandungan asam lemak tak jenuh yang baik bagi kesehatan ditemukan secara berimbang di dalam minyak kelapa sawit. Atau dengan kata lain, kandungan asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh yang hampir berimbang pada minyak sawit, justru baik untuk kesehatan.

Bukan hanya itu, minyak sawit juga terbukti memiliki kandungan antioksidan yang baik. Juga, kandungan vitamin E dan Vitamin A-nya bisa mencegah inflamasi pada tubuh manusia. Intinya, minyak Kelapa sawit tidak menyebabkan penyakit kardiovaskular. “Salah satu cara mengujinya adalah dengan melakukan penggorengan selama 72 jam dengan panas 180 derajat celcius.

Hasilnya, sama sekali tidak ada efek negatifnya. Bahkan minyak sawit terbukti yang paling stabil dibandingkan minyak nabati lainnya, seperti sun flower oil, soybean, dan reppe oil. Saya tegaskan! Minyak sawit yang paling sehat,” cetus Puspo dengan nada meninggi.

Yang terjadi selama ini lanjutnya, kampanye negatif selalu disuarakan oleh negara-negara penghasil sun flower oil, soybean dan reppe oil. Hal ini dilakukan, karena meraka sadar bahwa tidak mungkin bisa bersaing dengan minyak sawit yang sangat efesien. “Mereka (negara-negara produsen pesaing, red) berusaha menghubung-hubungkan isu kesehatan dengan minyak sawit. Mereka katakan, minyak sawit bila digoreng akan menghasilkan oksidasi yang tidak baik buat kesehatan,” tandasnya.

Puspo sepertinya tidak berlebihan. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada tahun 1990, minyak kedelai mendominasi penggunaan minyak nabati dunia sebesar 37,4 persen. Disusul minyak sawit 25,5 persen, minyak reppe 18,9 persen, dan minyak bunga matahari atau sun flower oil 18,2 persen. Dalam perkembangannya kebutuhan minyak sawit di pasar dunia, terus meningkat.

Termasuk ekspor ke Tiongkok, Amerika dan Eropa yang menempatkan minyak sawit hanya sebagai subtitusi setelah minyak kedelai, dan minyak bunga matahari. Pada 2008, penggunaan minyak sawit dunia sudah mencapai 41,5 persen. Menggeser minyak kedelai yang hanya sebesasr 32,03 persen, minyak rape 17,1 persen, dan minyak bunga matahari 9,4 persen.

Sasaran kampanye negatif saat ini menyasar Indonesia dan Malaysia sebagai produsen terbesar minyak sawit dunia. Data 2010, Indonesia mencapai 48 persen kebutuhan dunia, sedangkan Malaysia 39 persen. Sisanya sebesar 13 persen dipenuhi sejumlah negara lain. Isu yang dilontarkan mulai lingkungan, kesehatan hingga sosial. “Jadi bohong besar semua itu (tentang kampanye negatif sawit). Ini hanya masalah persaingan dagang,” pungkas Puspo.

Sergahan senada juga ditegaskan Profesor Oleg S Medvedev, dosen Lomonosov Moscow State University, Rusia. Yang lebih mengejutkan, Oleg juga mengungkap fakta tentang penyuapan sejumlah oknum akademisi untuk berbicara untuk menyudutkan minyak sawit. Negara pesaing berusaha membendung sawit baik dari isu kesehatan, maupun lingkungan. “Terus terang saya prihatin dan miris. Bagaimana tidak, sejumlah profesor sengaja dibayar untuk membuat hasil fakta ilmiah yang bertolak belakang. Yang isinya sangat menyudutkan sawit. Sehingga informasi sawit hanyalah mitos tidak berdasarkan fakta,” beber Oleg.

Padahal yang sebenarnya lanjut Oleg, minyak sawit sehat dan baik bagi kesehatan tubuh. Di dalamnya masing-masing terkandung 50 persen lemak jenuh dan lemak tidak jenuh. “Untuk kesehatan, konsumsi lemak jenuh dan lemak tak jenuh harus seimbang,” Jelas Oleg.
Bila mau jujur lanjutnya, minyak nabati yang diproduksi dari kedelai, maupun bunga matahari juga berdampak pada kesehatan. “Sebenarnya mereka yang kampanyenya zero itu, bisik-bisiknya juga palm oil (baca : mengakui minyak sawit),” sindir Oleg.

Kolerasi dari itu, dan sebagai bukti minyak sawit baik imbuh Oleg, adanya keputusan beberapa negara Eropa untuk mengurangi penggunaan lemak trans, dibarengi penggunaan minyak sawit. Terutama Denmark. Parlemen Eropa juga mulai memutuskan tidak memgunakan minyak trans dan menggantinya dengan minyak sawit. “Minyak sawit dianggap sebagai pengganti paling cocok dari minyak trans. Saya bersedia dan akan terus berbicara counter kampanye negatif tentang sawit. Karena selama ini informasinya menyesatkan,” tandas Oleg. (sa)

Sumber : kalsel.prokal.co

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »