Ekspor Minyak Sawit Tembus 18 Juta Ton

JAKARTA – Ekspor minyak sawit nasional sepanjang Januari – September 2016 mencapai 17,33 juta ton, atau turun 5,17% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 19,33 juta ton. Konsistennya Indonesia dalam menjalankan program mandatori biodiesel diduga menjadi salah satu pemicu turunnya ekspor komoditas perkebunan tersebut.

Dalam catatan yang dilansir Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor tersebut mencakup minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO), minyak kernel sawit (CPKO), serta produk olahan termasuk biodiesel. Sementara itu, produksi minyak sawit nasional sepanjang Januari-September 2016 mencapai 24,34 juta ton. Khusus September 2016, produksi naik menjadi 3,33 juta ton dari Agustus 2016 yang tercatat 2,97 juta ton.

Stok pada awal September 2016 tercatat 1.69 juta ton, namun pada akhir bulan menjadi 2,17 juta ton. Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan mengatakan, ekspor minyak sawit Indonesia pada September 2016 turun 15,5% menjadi 1,89 juta ton dari Agustus 2016 yang tercatat 2,23 juta ton. Penurunan tersebut dipicu oleh lemahnya permintaan di pasar global, terutama oleh Uni Eropa (UE), Amerika Serikat (AS), dan Tiongkok. Pada September 2016, ekspor ke UE turun 55% menjadi 216,59 ribu ton dari 486,05 ribu ton pada Agustus 2016.

Sementara Tiongkok mencatat pemangkasan impor sekitar 11% dari 267,98 ribu ton pada Agustus menjadi 239,42 ribu ton. Kemudian, ekspor ke India tergerus 7% dan ke negara-negara Timur Tengah terpangkas 11,45%.

Di sisi lain, permintaan minyak sawit Indonesia ke Pakistan naik 17% menjadi 146 ribu ton pada September 2016 dari Agustus 2016 yang mencapai 125,15 ribu ton. Ekspor ke Bangladesh juga naik 4% dan ke negara-negara Afrika tumbuh 1%. “Stok minyak sawit Indonesia meningkat signifikan untuk pertama kalinya setelah lebih dari satu semester menunjukkan tren penurunan. Pada September 2016, stok minyak sawit Indonesia naik 28% dan Agustus lalu, yakni dari 1,69 juta ton menjadi 2,17 juta ton. Bertambahnya stok didukung oleh produksi yang meningkat. Pada saat bersamaan ekspor minyak sawit Indonesia melemah,” kata Fadhil di Jakarta, Kamis (10/11).

Sedangkan penyerapan biodiesel di dalam negeri masih tetap konsisten, rata-rata 250 ribu kiloliter (kl) per bulan. Saat ini, kapasitas produksi biodiesel di dalam negeri diklaim besar dengan penyerapan belum maksimal. Dampaknya, stok minyak sawit Indonesia tinggi sehingga ekspor biodiesel digenjot. Namun pada September 2016, biodiesel yang diekspor hanya 60 ribu ton. Fadhil menjelaskan, tertahannya ekspor pada periode sebelumnya menyebabkan stok kosumen menipis. Hal itu kemudian berdampak pada melonjaknya harga minyak sawit di pasar global. “Para traders kemudian memilih menunggu produksi membaik, sehingga stok mulai menumpuk yang berpengaruh pada penurunan harga,” kata Fadhil.

Harga minyak sawit sepanjang September 2016 bergerak pada level US$ 740-795 per ton. Harga yang tinggi membuat para traders menahan pembelian sambil menunggu stok meningkat. Sementara itu, harga sepanjang Oktober 2016 bergerak di kisaran US$ 690-755 per ton. "Harga mulai tergerus karena melemahnya permintaan pasar global. Kami memperkirakan pada November 2016 harga minyak sawit global masih akan bertahan di level US$ 720-750 per ton” kata dia.

Pajak Sawit Perancis

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan, ekspor minyak sawit Indonesia akan meningkat setelah parlemen Perancis membatalkan pemberlakuan pajak progresif untuk minyak sawit. Selanjutnya, Pemerintah Indonesia menindaklanjuti keputusan tersebut dengan sosialisasi dan diseminasi, khususnya tentang capaian positif produk sawit Indonesia. “Kami harapkan melalui Bapak Duta Besar, karena beliau juga sangat peduli dengan persoalan sawit kita, agar ikut melakukan sosialisasi tentang Sustainability Palm oil yang saat ini sudah diterapkan Indonesia," kata Airlangga Hartarto.

Hal itu disampaikan Airlangga dalam keterangan tertulisnya usai menerima Duta Besar Indonesia untuk Perancis Hotmangaradja Pandjaitan di Jakarta, kemarin. Sosialisasi tersebut, kata Airlangga, perlu dilakukan secara komprehensif dan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan dengan strategi kampanye yang spesifik dan menyasar target yang tepat. Dia menambahkan, Perancis merupakan negara yang memperhatikan aspek ramah lingkungan pada produksi minyak sawit, termasuk untuk tidak memberikan kontribusi terhadap deforestasi dan perubahan iklim.

“Untuk itu, kami melakukan sinkronisasi agar ekspor minyak sawit kita dapat meningkat dan berjalan lancar ke Perancis. Apalagi, Pemerintah Indonesia tengah giat mendorong perluasan pasar ekspor produk industri agro ke negara-negara Uni Eropa,” kata Airlangga. Secara terpisah, Deputi I Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Kemaritiman Arief Havas Oegrosono mengatakan, wacana pengenaan pajak progresif atas minyak sawit tersebut masih bisa terulang. “So far, tidak ada lagi (dibatalkan). Tapi tidak ada jaminan mereka (Perancis) tidak maju lagi tahun depan,” kata Havas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »