Bulan Agustus Menjadi Kebangkitan Harga CPO

JAKARTA – Kebangkitan harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) mulai terasa di Agustus lalu. Selama bulan Agustus, harga CPO menanjak 9,3% dan berhasil bertengger di RM 2.526 pada 30 Agustus. Padahal dalam delapan bulan pertama 2016, CPO tergems 0,6%.

Mengutip Bloomberg, Jumat (2/9), kontrak harga CPO pengiriman November 2016 di Malaysia Derivative Exchange menguat 1,9% menjadi RM 2.568 per metrik ton. Dalam sepekan terakhir, harga CPO menanjak 0,6%.

Wahyu Tri Wibowo, Analis PT Central Capital Futures, menjelaskan, selain turunya produksi CPO, di Agustus mulai terlihat peningkatan permintaan. Berdasarkan data Intertek Testing Services, ekspor CPO Malaysia selama bulan Agustus meningkat 27,27% menjadi 1,62 juta ton dibanding bulan sebelumnya.

Albertus Christian, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, menambahkan, CPO secara keseluruhan bergerak dalam range trading cukup lebar. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), produksi CPO Indonesia semester pertama turun 5% menjadi 15,3 juta ton dibanding periode sama tahun lalu.

Penurunan produksi membuat permintaan tidak terpenuhi semua, terutama untuk kawasan Eropa. "Penurunan produksi diperkirakan terjadi hingga akhir tahun sehingga mendukung rebound harga CPO," ujar Albertus.

Setelah El Nino, fenomena cuaca La Nina menjadi ancaman produksi CPO. Curah hujan berlebih dan banjir di kawasan Asia Tenggara ini berpotensi kembali memangkas produksi CPO Indonesia dan Malaysia. Kementerian Pertanian memperkirakan produksi CPO Indonesia turun 5% tahun ini di kisaran 31 - 31 juta ton.

Setelah produksi yang mulai seret, ternyata permintaan dari China India dan Uni Eropa menanjak. Tapi patut diwaspadai adanya kenaikan pajak impor CPO oleh India bisa menekan penjualan.

Wahyu menambahkan, potensi kenaikan harga CPO masih terbuka tetapi cenderung terbatas. Mengingat pada kuartal III-2016 adalah puncak musim panen CPO. Di samping itu, pergerakan harga bakal terganggu penguatan USD yang memicu turunnya harga komoditas.

"Persaingan dengan minyak kedelai dan tekanan turun secara teknikal setelah harga mencapai level over bought juga menjadi faktor negatif," lanjut Wahyu.

Jika harga CPO dapat menembus angka RM 2.800, Wahyu optimistis, level RM 3.000 dapat dicapai tahun ini. Tetapi jika anjlok di bawah RM 2.500, terbuka potensi konsolidasi ke RM 2.400 dan berlanjut ke RM 2.000 per metrik ton. Christian memperkirakan, harga CPO berpeluang menguat ke RM 2.700 sampai RM 2.900 hingga akhir tahun. Sedangkan potensi tekanan terbatas pada rentang RM 2.400 sampai RM 2.300 per metrik ton.

Sumber : Kontan, 3 September 2016, Wuwun Nafsiah

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »