Moratorium Menjadi Kabar Positif, Emiten sektor perkebunan oleh harga jual kelapa sawit yang membaik

JAKARTA. Baru-baru ini Presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan yang meresahkan pelaku industri kelapa sawit. Pemerintah berencana menerapkan moratorium atau penghentian sementara pemberian izin pembukaan lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit.

Namun, sejumlah analis menilai moratorium tersebut tidak merugikan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang
melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, menilai, aturan ini justru akan menguntungkan emiten, terutama yang sudah memiliki lahan luas. "Ini akan menekan jumlah pendatang baru di industri tersebut," ujarnya.

Dengan terbatasnya pendatang baru, dan tidak bertambahnya lahan baru, maka tingkat produksi tandan buah
segar (TBS) kelapa sawit akan turun. Ini akan mendorong harga crude palm oil (CPO) terus meningkat.

Menurut Hans, emiten-emiten yang sudah memiliki lahan luas akan sangat diuntungkan oleh kenaikan harga CPO. Lagi pula, saat ini sebagian besar emiten perkebunan masih menahan ekspansi lahan baru di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Senada, William Surya Wijaya, Analis Asjaya Indosurya Securities, menilai, moratorium justru membawa dampak positif dalam menjaga harga CPO ke depan. Meski tak ada penambahan lahan, dia memandang pembatasan izin pembukaan lahan tetap menguntungkan emiten karena beban akan turun. Emiten tidak akan ekspansi, sehingga margin semakin tebal.

Kendati begitu, William meIihat kebijakan moratorium tetap akan membawa dampak negatif, terutama bagi emiten yang umur tanaman sawitnya sudah mulai tua. "Tapi dampaknya positif tadi masih lebih dominan terhadap emiten sektor ini," ujar William.

Tahun ini, keduanya melihat prospek sektor perkebunan sawit masih positif. Harga CPO dunia diramal lebih baik ketimbang tahun lalu, karena produksi tahun ini melambat sebagai dampak dari El Nino.

Dari dalam negeri, lanjut Hans, prospek bisnis dan saham perkebunan sawit akan didorong oleh program Biodiesel B-20, yakni program pemerintah yang mewajibkan 20% campuran biodiesel untuk bahan bakar tertentu. Dus,permintaan dari dalam negeri akan mengatasi kelebihan pasokan di tengah melambatnya permintaan ekspor.

Jika target pemerintah atas penggunaan biodiesel 4,8 juta kiloliter lahun ini tercapai seiring program B20, akan ada tambahan permintaan CPO sebanyak 4,2 juta ton.

Menurut Wilbert, Analis Sinarmas Sekuritas, itu akan menjadi penopang harga CPO tahun ini dan tahun-tahun
mendatang. Dia memperkirakan, harga CPO tahun ini akan cenderung positif, mengingat puncak El Nino belum kelihatan. Dia memperkirakan, harga CPO akan mencapai RM 2.600-RM 2.700 tahun ini. "Ini akan bermanfaat bagi perusahaan perkebunan, karena akan mendorong peningkatan top line maupun bottom Iine tahun ini," ujar Wilbert.

Selain dampak dari El Nino yang akan menekan produksi, Wilbert melihat ada potensi badai La Nina juga akan menopang harga CPO ke depan. El Nino, secara historis selalu diikuti oleh La Nina, yang diperkirakan berlangsung 3-5 bulan setelah El Nino. La Nina akan menyebabkan kekeringan di belahan bumi utara, yang merupakan produsen kedelai terbesar. Kelangkaan bahan substitusi minyak sawit ini akan menguntungkan industri kelapa sawit.

Untuk emiten perkebunan, Wilbert memilih saham AALI. Menurutnya, prospek saham emiten grup Astra tersebut
masih positif karena memiliki lahan yang luas. Sementara Hans merekomendasikan buy LSIP, SGRO, dan SIMP dengan target masing-masing Rp 1.97 9, Rp 2.293, dan Rp 572per saham. Ketiganya memiliki potensi pertumbuhan laba yang cerah.

Sumber : Kontan.co.id

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »