Berita

Aktifitas

Recent Posts

Sungai Lilin Jadi Lokasi Pabrik Pengolahan BBN Kelapa Sawit

Sungai Lilin Jadi Lokasi Pabrik Pengolahan BBN Kelapa Sawit

Sungai Lilin Jadi Lokasi Pabrik Pengolahan BBN Kelapa Sawit

Sungai Lilin Jadi Lokasi Pabrik Pengolahan BBN Kelapa Sawit 

MOESLIMCHOICE. Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) akan menjadi lokasi pembangunan pabrik pengolahan Bahan Bakar Nabati (BBN) kelapa sawit. Nilai investasi pabrik ini mencapai 14 juta dollar dan akan menyerap ribuan tenaga kerja. 
Untuk memuluskan langkah itu Bupati Muba Dodi Reza menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) guna merealisasikan pembangunan pabrik IPO-CPO atau pengolahan kelapa sawit milik petani rakyat menjadi bahan bakar nabati (BBN).
Rencana ini mendapat respon dan dukungan positif dari kalangan eksekutif dan legislatif di tingkat pusat.  Mereka yang mendukung adalah Kemenko Perekonomian, Kementerian ESDM, dan Komisi VII DPR RI.

Bahkan secara resmi hasil studi kelayakan pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit jadi bahan bakar nabati oleh Institute Teknologi (ITB) Bandung diserahkan kepada Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin. Kini, masuk ke tahap pembangunan pabrik.  

Ketua Tim Tenaga Ahli Pembangunan Pabrik Industri Palm Oil dan Crude Palm Oil (IPO-CPO) Muba dari ITB, Dr IGBN Makertihartha mengatakan proses studi kelayakan pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati  untuk Muba sudah dilakukannya sejak tiga bulan lalu.
"Hari ini secara resmi hasil studi kelayakan atau feasibility study yang telah kami lakukan sejak tiga bulan ini diserahkan ke pak Bupati Dodi Reza Kemudian para pihak akan mempersiapkan ke tahap pembangunan pabrik," ungkapnya di sela Rapat Koordinasi dan diskusi Pemaparan Akhir Penyusunan Studi Kelayakan Pembangunan Pabrik IPO-CPO di Hotel Luxton, Selasa (17/12).

Dari hasil studi kelayakan ini  realisasi pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati di Muba sudah sangat tepat.
"Pabrik ini menjadi pilot project di Indonesia dalam mewujudkan kemandirian energi dan meningkatkan taraf kesejahteraan warga khususnya petani sawit," jelas Dodi.
Menurutnya, langkah Dodi Reza merealisasikan pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati juga solusi dalam mengatasi ketergantungan impor BBM. Langkah ini sangat strategis meningkatkan kesejahteraan petani sawit rakyat.
"Ini project yang sangat strategis dan sangat memberikan kontribusi besar untuk masyarakat yang juga berdampak hingga ke tingkat nasional," ulasnya.

Dijelaskan, secara umum apabila realisasi pembangunan pabrik IPO-CPO di Muba  berjalan baik diprediksi nilai investasi mencapai 14 juta US Dollar.
"Ada beberapa opsi kajian yang telah kami lakukan yakni salah satunya nanti dalam realisasi pembangunan pabrik tersebut nilai investasinya 14 juta USD.  Semua proses operasional pabrik akan di handle oleh Pemkab Muba," bebernya.

Lanjutnya, terdapat 133.557 hektar lahan perkebunan sawit rakyat yang tersebar di 9 kecamatan yang ada di Kabupaten Musi Banyuasin. Hingga tahun 2019, terdapat 12.000 hektar lahan sawit yang sudah berhasil diremajakan.  Sedangkan lahan siap panen pada tahun 2020 mendatang seluas 4.446 hektar.
Proses peremajaan perkebunan sawit rakyat tersebut akan terus berlanjut hingga 2024 dengan proyeksi luas lahan hingga 38.674 hektar.
"Pemerintah Musi Banyuasin melihat potensi besar terhadap perkebunan-perkebunan rakyat tersebut. Ini sejalan dengan keinginan petani sawit yang bisa mengolah kelapa sawit hasil panen mereka sendiri," imbuhnya.

Ketua Program Studi (Prodi) S2 dan S3 Teknik Kimia ITB ini juga menambahkan, apabila pembangunan pabrik IPO-CPO di Muba berjalan, tidak hanya dapat mendongkrak perekonomian petani sawit rakyat tetapi juga akan terserap ribuan tenaga kerja untuk operasional pabrik tersebut.
Untuk lokasi, tim studi kelayakan menilai lahan yang paling  cocok dan pas untuk operasional pembangunan pabrik IPO-CPO  yakni di Kecamatan Sungai Lilin.

Penyerahan hasil studi kelayakan dari ITB ke Bupati Muba ini disaksikan Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator  Perekonomian, Musdhalifah Machmud. Ia mengapresiasi upaya dan langkah strategis yang dilakukan Bupati Muba dalam merealisasikan pembangunan pabrik IPO dan CPO di Muba.
"Atas upaya ini prinsipnya Kemenko Perekonomian siap mendukung dan takjub dengan Muba yang selalu terdepan dalam merealisasikan program peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya bagi kalangan petani," ungkapnya.
Ia menambahkan, tidak hanya petani sawit, sebelumnya pula Muba telah berhasil dalam terobosan inovasi pembangunan jalan aspal karet yang berdampak dalam peningkatakan kesejahteraan petani karet.
"Selain itu, Muba juga telah menjadi yang pertama di Indonesia dalam realisasi program peremajaan perkebunan kelapa sawit milik petani dan diapresiasi oleh Presiden RI Joko Widodo. Kami berharap daerah-daerah lain juga dapat mencontoh Pemkab Muba dalam upaya-upaya peningkatan kesejahteraan petani," harapnya.

Bupati Muba Dodi Reza menyebutkan, setelah hasil studi kelayakan ini diserahkan ini dilakukan Pemkab Muba bersama stakeholder akan menindaklanjuti rencana ke depan.
"Target kita tahun 2021 awal pembangunan pabrik selesai dan operasional pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati selesai," tuturnya.
Kandidat Doktor Universitas Padjajaran ini menambahkan, dengan berjalannya pabrik nantinya akan menjadi realisasi program nasional untuk menekan ketergantungan impor BBM. Kabupaten Muba akan menjadi pilot project dalam merealisasikan energi baru terbarukan.
"Realisasi ini juga selaras dengan visi dan misi Presiden RI bapak Joko Widodo, dan di Indonesia dimulai dari Muba," tegasnya.

Dodi mengungkapkan, dalam perjalanan pembangunan pabrik IPO-CPO terkait pendanaan Pemkab Muba sendiri sangat siap secara mandiri. Namun dirinya akan melibatkan para pihak pemangku kepentingan agar dapat gotong-royong mewujudkan pendirian pabrik tersebut.
"Prinsipnya pabrik ini harus terealisasi dan berada di Muba. Pola pendanaan akan dilakukan dengan  bersama-sama gotong royong dengan para pihak," tukasnya. [rhd]


( Sumber : moeslimchoice.com )

 

Mulai 2020, Pemerintah Bertekad Manfaatkan Kelapa Sawit Jadi GreenFuel

Mulai 2020, Pemerintah Bertekad Manfaatkan Kelapa Sawit Jadi GreenFuel

Mulai 2020, Pemerintah Bertekad Manfaatkan Kelapa Sawit Jadi GreenFuel

 

Jakarta, MINA – Sebagai upaya menekan defisit anggaran akibat impor bahan bakar minyak (BBM), pemerintah terus bertekad mempercepat pemanfaatan minyak kelapa sawit dari B30 hingga GreenFuel (bahan ramah lingkungan) mulai tahun 2020.
“Program ke depan, selain jenis minyak nabati B30 atau fatty acid methyl ester (FAME), pemerintah akan mendorong GreenFuel atau B100. Sifatnya dari minyak nabati sama dengan bahan bakar minyak dari fosil,” ujar Andriah Feby Misna, Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Senin (9/12).

Namun ia mengatakan, pemanfaatan minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar harganya lebih mahal dibandingkan minyak fosil.
“hanya saja harga produk ini belum ekonomis,” ujar Feby dalam diskusi media Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) bertema “Diskriminasi Kelapa Sawit, B30 Siap Meluncur” di Ruang Serba Guna Kemkominfo, Jakarta.

Menurut Andriah, hal ini sebagai jawaban adanya hambatan tarif dari Uni Eropa maupun sejumlah negara lainnya maka Kementerian ESDM mendorong GreenFuel untuk bahan bakar pembangkit listrik serta kebutuhan transportasi maupun industri domestik.
Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No. 12/2015, pada tahun 2020 akan diimplementasikan B30 untuk seluruh sektor. Hal tersebut mengacu pada evaluasi hasil Road Test B30.

Dari situ penerapan B30 diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan crude palm oil (CPO) kurang lebih 3 juta kilo/tahun lalu dari situ lanjut penerapan B50, kesiapan feedstock, infrastruktur dan fasilitas pendukung lainnya. Andriah menerangkan setelah implementasi B30 lalu ke B50, pemerintah mulai mengembangkan Green Fuel berbasis CPO mulai tahun 2019 melalui kilang milik PT Pertamina baik secara coprocessing maupun stand alone Refiniring Unit.
“Diperkirakan pada tahun 2023 kebutuhan CPO untuk Green Fuel akan mencapai 4,9 juta KL/tahun,” jelasnya.

Adapun untuk meningkatkan penyerapan sawit rakyat sekaligus meningkatkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT), pemerintah bersama dengan pihak terkait mendorong pengembangan pembangkit listrik CPO yang difokuskan pada perkebunan milik rakyat.
Berdasarkan pemantauan dari Kementerian ESDM, pemakaian bahan bakar nabati diharapkan mampu menurunkan kadar Gas Rumah Kaca (GRK) sesuai dengan Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit (RAN-PKS).

Tercatat, pemakaian B30 sejak tahun 2018 sebanyak 3,75 KL bisa membawa dampak penurunan emisi hingga lima juta ton CO2 atau setara 20 ribu bus kecil. Adapun dengan menggunakan B30 pada 2019 sebanyak 6,2 juta KL akan bisa menurunkan emisi sebanyak 9,1 juta ton CO2 atau setara 35.908 bus kecil.
Sementara, pemanfaatan B30 sebanyak 9,6 juta KL bisa menekan emisi gas buang sekitar 14,25 juta ton CO2 atau setara 52 ribu bus kecil. (L/Sj/RS3)



( Sumber : minanews.net )