Berita

Aktifitas

Recent Posts

Petani Sambut Kehadiran Aplikasi Mysawit

Petani Sambut Kehadiran Aplikasi Mysawit

Petani Sambut Kehadiran Aplikasi Mysawit

 

MEDAN, GLOBALPLANET - Para petani sawit, termasuk yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) dan Asosiasi Sawitku Masa Depanku (Samade), menyambut baik kehadiran aplikasi Mysawit buatan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).
"Saya sudah unduh aplikasi Mysawit. Saya sudah coba. Dan bagus. Menurut saya, inilah yang disebut dengan solusi instan. Ini yang disebut dengan teknologi 4.0. Petani Indonesia sangat terbantu dengan adanya aplikasi Mysawit ini," ujar Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat ME Manurung, kepada Globalplanet.news, Selasa (12/11/2019).

Gulat bahkan yakin aplikasi Mysawit akan membuka tabir gelap di mana selama ini dikesankan teknologi yang terkait sawit hanya dikuasai korporasi sawit.
 "Jadi, melalui aplikasi Mysawit yang sudah saya coba ini, petani sawit akan mengetahui apa.yang dia butuhkan, lalu, petani sawit bisa tahu solusi yang dihadapinya, dan lainnya," kata Gulat.

Agar petani sawit yang tergabung dalam Apkasindo di 22 cabang provinsi dan 117 tingkat kabupaten, merasakan manfaat aplikasi Mysawit, Gulat mengatakan akan mengeluarkan surat edaran agar aplikasi Mysawit itu diunduh. 
"Surat edaran itu akan saya sebar melalui aplikasi WA," ungkap Gulat. Agar lebih tersosialisasi, pihaknya berencana mengundang Taufiq Caesar Hidayat selaku Kepala Divisi Manager Pemasaran PPKS yang membidani kelahiran aplikasi Mysawit, untuk berbicara kepada para petani sawit anggota Apkasindo.
"Kami akan meminta Pak Raufiq atau siapa pun dari PPKS untuk menjelaskan aplikasi Mysawit ke petani sawit," ujar Gulat.
Ketua Umum DPP Asosiasi SAMADE, Tolen Ketaren, juga menyambut baik kehadiran aplikasi Nysawit. "Ada chat atau tanya jawab di aplikasi itu. Jadi, Mysawit bukan hanya jualan, tapi juga bantu kita untuk tahu mana kecambah yang cocok dengan lahan petani sawit," ujar Tolen.

Pihaknya berharap PPKS dapat mengatur jadwal agar menyosialisasikan aplikasi Mysawit ke para petani sawit anggota SAMADE. "Sebaiknya kita dilatihlah untuk menggunakan aplikasi Mysawit teraebut. Saya akan berkomunikasi ke PPKS mengenai hal ini, supayaujar ada sosialisasi ke basis-basis kita di berbagai provinsi," tegas Tolen Ketaren.
Reporter : Hendrik Hutabarat Editor : M.Rohali 536



( Sumber : globalplanet.news )

 


 
Pengelolaan Kelapa Sawit Lestari di Riau Jadi Inspirasi Bina Damai di Berbagai Negara

Pengelolaan Kelapa Sawit Lestari di Riau Jadi Inspirasi Bina Damai di Berbagai Negara

Pengelolaan Kelapa Sawit Lestari di Riau Jadi Inspirasi Bina Damai di Berbagai Negara

aa 

PEKANBARU.NIAGA.ASIA-Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Pemerintah Kolombia dan UNDP (United Nations Development Programme) Indonesia menyelenggarakan “International Workshop on Crops for Peace“, dengan rangkaian kegiatan berupa Lokakarya  di Jakarta pada tanggal 5-6 November 2019, dan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Provinsi Riau pada tanggal 7-9 November 2019. 
Kunjungan lapangan ke Provinsi Riau ditujukan untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan perkebunan kelapa sawit lestari yang dibangun melalui kerjasama perusahaan dan petani kecil (smallholder) membawa dampak positif bagi perkembangan sosial-ekonomi masyarakat lokal.
Dalam kunjungannya, para peserta dan narasumber dari PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART), mendiskusikan bagaimana industri kelapa sawit telah membantu meningkatkan kondisi infrastruktur di lingkungan sekitar perkebunan serta kondisi sosial-ekonomi masyarakat (dalam hal peningkatan pendapatan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan), baik pekerja perkebunan dan petani kecil.

Kunjungan ini diikuti oleh lebih dari 20 orang peserta internasional, yang berasal dari United Nations Peacebuilding Support Office dan 12 negara, antara lain Indonesia, Kolombia, Afghanistan, Ethiopia, Ghana, Myanmar, Nigeria, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Filipina, dan Timor Leste.
Beberapa peserta yang hadir merupakan pengambil kebijakan dan pelaku utama dalam isu bina damai maupun pertanian di negara dan organisasi masing,antara lain:  Henk Jan Brinkman, Chief of Peacebuilding Strategy and Partnerships Branch, UN Peacebuilding Support Office; Ambassador Paw Lwin Sein, Advisor at National Reconciliation and Peace Center (NRPC) Myanmar; Peter Mae, Undersecretary of the Ministry of Traditional Governance, Peace, and Ecclesiastical Affairs dari Kep. Solomon; dan Albert Yelyang, National Coordinator of West African Peacebuilding Network Ghana.

Pada kunjungan ke perkebunan kelapa sawit milik petani kecil di Kabupaten Kampar, para peserta melihat langsung kondisi ekonomi para petani kecil dan masyarakat di sekitar perkebunan yang ikut dalam skema program Perkebunan Inti Rakyat, (Plasma) dan independent financing dan berdiskusi langsung dengan mereka mengenai tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para petani kecil dan bagaimana skema kerja sama dengan pemerintah dan swasta, dalam hal ini dapat mendukung pengembangan petani kecil.

Sebagaimana dilansir situs kemlu.go.id, Dindin Wahyudin, Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral, Kementerian Luar Negeri mengatakan,  para peserta sangat terkesan dengan pola kemitraan petani-swasta-dan pemerintah yang dilaksanakan di Indonesia, dan mempunyai potensi yang baik sebagai inspirasi metode bina damai di kawasan-kawasan rawan konflik di berbagai wilayah di dunia.

Dalam kunjungan ini, peserta juga melihat bagaimana pengelolaan kelapa sawit dengan standar RSPO yang ramah lingkungan yakni:  Riset pengembangan tanaman kelapa sawit yang lebih tahan kekeringan dan tingkat CO2 yang tinggi, Penggunaan cara-cara alami untuk mengusir hama, misalnya dengan menanam tanaman pengusir hama dan memelihara predator hama, dan  Kunjungan instalasi pengembangan biogas melalui teknologi methane capture sebagai sumber energi terbarukan.
Kegiatan “International Workshop on Crops for Peace” diselenggarakan dalam rangka keanggotaan Tidak Tetap Indonesia dalam Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Salah satu prioritas Indonesia di DK PBB adalah menciptakan sinergi di antara upaya penciptaan perdamaian dan keamanan internasional sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).


( Sumber : niaga.asia.com )

 

MINYAK SAWIT HARUS MENONJOL DALAM PERUNDINGAN PERDAGANGAN

MINYAK SAWIT HARUS MENONJOL DALAM PERUNDINGAN PERDAGANGAN

MINYAK SAWIT HARUS MENONJOL DALAM PERUNDINGAN PERDAGANGAN

 

Dari sisi kebijakan perdagangan, sistem berbasis aturan perdagangan multirateral perlu ditinjau ulang dan harus mencerminkan kepentingan negara-negara berkembang secara memadai, termasuk dalam hal CEPA Indo-EU. Regionalisme menjadi penting dimana ASEAN dan sekitarnya juga merupakan peluang pasar inti terbesar di dunia. Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar dalam acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlok di Nusa Dua Bali (1/11).

Minyak kelapa sawit harus memiliki tempat yang menonjol dalam agenda bilateral, regional, Free trade agreement, diskusi multilateral, negosiasi dan perjanjian. Namun demikian serapan pasar domestic tetap menjadi agenda utama pemerintah.
“Saat ini pasar minyak sawit terbesar dunia adalah Indonesia karena kita adalah konsumen terbesar maka kebutuhan dalam negeri harus dipenuhi dengan baik untuk edible oil dan turunannya. Dalam 10 tahun kedepan mayoritas sawit yaitu 60% akan terserap di dalam negeri dan sisanya ataupun turunannya akan diekspor. Sekarang 30% dalam negeri sisanya diekspor,” katanya.

Untuk pasar global Indonesia harus mendekati China, India, Pakistan dan Bangladesh yang pasarnya besar dan akan semakin besar. Perdagangan yang saling menguntungkan harus didorong.
Pemerintah Indonesia juga menjadikan kampanye negatif terhadap Industri sawit nasional sebagai agenda mendesak yang harus diatasi. Kampanye hitam tersebut kerap menuduh sawit sebagai industri yang tidak ramah lingkungan dan tidak berkelanjutan.
“Pemerintah akan memperkuat diplomasi sawit dan melakukan berbagai langkah untuk menghadapi berbagai tantangan industri kelapa sawit nasional. Narasi negatif terhadap minyak kelapa sawit terutama berasal dari Uni Eropa harus diatasi” kata Mahendra.

Upaya menuju kelapa sawit yang berkelanjutan melalui ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) harus diakui dan diperhitungkan oleh Uni Eropa terutama dalam tinjauan kriteria ILUC yang akan datang. Pemerintah akan mendorong dunia agar melihat aspek environmental footprint pada minyak nabati lainnya sebagaimana ditetapkan pada Industri kelapa sawit Indonesia.
“ILUC sama sekali tidak berdasar kaidah ilmiah sebab 7 model ada 7 hasil yang berbeda. Kalau kaidah ilmiah 800 model hasilnya akan sama semua,” katanya.
“ Kita akan melakukan pendekatan, penjelasan dan inisiatif untuk mendorong terpenuhinya sistem yang mendukung keberlanjutan seluruh minyak nabati dilihat dari semua aspek termasuk aspek SDGs dan sawit bisa menjadi pioneer. Dengan demikian kita bisa menjamin permintaan global secara bertanggung jawab dengan minyak nabati berkelanjutan. Harus dilihat juga minyak nabati lainnya, misalnya penggunaan bahan kimia pada minyak nabati Eropa,” kata Mahendra.

Menurutnya, dunia harus melihat sawit secara fair karena sawit bukan semata untuk memenuhi pasar Eropa saja namun juga pasar dunia yang akan tumbuh terus seiring dengan pertumbuhan populasi umat manusia. Kebutuhan akan minyak nabati tersebut harus direspon dengan minyak nabati yang berkelanjutan. Saat ini, sawit menjadi solusi utama sebagai minyak nabati berkelanjutan dimana sawit memiliki produktifitas 6-10 kali lipat lebih besar dengan penggunaan lahan yang lebih efisien dibandingkan dengan minyak nabati dunia lainnya.



( Sumber : perkebunannews.com )